Kabupaten Sumba Barat telah ditetapkan sebagai bagian dari Kawasan Strategis Pariwisata Nasional (KSPN) yang diproyeksikan menjadi pusat pertumbuhan ekonomi baru. Di dalam KSPN ini, Kawasan Transmigrasi Lamboya—yang mencakup Kecamatan Lamboya, Laboya Barat, dan Wanokaka—menawarkan aset pariwisata yang sangat kaya, mulai dari bentang alam pesisir hingga ekosistem adat yang masih terjaga kelestariannya.
Pengembangan kawasan ini menjadi krusial tidak hanya untuk mendongkrak Pendapatan Asli Daerah (PAD), tetapi juga untuk menggerakkan ekonomi kerakyatan melalui pendekatan pariwisata berbasis masyarakat atau Community-Based Tourism (CBT).
Berikut adalah pemetaan potensi wisata di Lamboya dan bagaimana ekowisata dapat mengintegrasikan pertumbuhan ekonomi dengan pemberdayaan warga lokal.
Pesona Alam dan Resor Kelas Dunia

Garis pantai di pesisir selatan Sumba Barat menyimpan keindahan yang telah diakui secara global. Beberapa daya tarik utama di kawasan ini meliputi:
- Pantai Kerewei: Destinasi yang telah mulai dikembangkan untuk aktivitas surfing sejak tahun 2020.
- Pantai Marosi dan Lailiang: Pantai Marosi dikenal dengan pesona matahari terbenamnya, sementara Pantai Lailiang menawarkan pemandangan matahari terbit yang eksotis.
- Resor Nihi Sumba (Nihiwatu): Kehadiran hotel bintang lima ini memberikan dampak ekonomi yang masif, menyumbang PAD hingga Rp 24 miliar per tahun dengan harga kamar yang mencapai Rp 25 juta per malam. Resor ini juga menyerap tenaga kerja lokal dengan standar gaji di atas upah minimum.
Magnet Wisata Budaya dan Kampung Adat

Selain potensi alam, Lamboya memiliki fondasi budaya yang sangat mengakar melalui sistem kewilayahan tradisional Patiala. Keunikan struktur adat ini menjadi daya tarik wisata budaya yang bernilai tinggi:
- Perhelatan Pasola dan Wula Poddu: Festival Pasola yang berskala internasional rutin diselenggarakan dan menjadi magnet utama bagi wisatawan domestik maupun mancanegara. Selain itu, terdapat ritual bulan pamali Wula Poddu dan olahraga tinju tradisional Pajurra.
- Kampung Adat Sodana: Kampung ini mengelola struktur adat yang sangat kuat, melibatkan 32 Rato dengan tugas masing-masing dalam menentukan ritual dan tata ruang.
- Kerajinan Tenun Ikat: Tenun tradisional Sumba mayoritas dikerjakan oleh kaum perempuan di tingkat rumah tangga. Kain sarung bermotif tradisional ini memiliki nilai jual tinggi di pasar luar, mencapai Rp 1 juta per lembar untuk motif berkualitas baik.
Peluang Ekowisata Berbasis Masyarakat (CBT)

Pembangunan pariwisata di kawasan transmigrasi ini harus mengutamakan peran masyarakat setempat sebagai pengelola, bukan sekadar penonton.
Melalui kerangka desa wisata, konsep CBT mengasumsikan bahwa manajemen, perencanaan, dan operasionalisasi pariwisata dikendalikan oleh masyarakat untuk meminimalisir kebocoran ekonomi (leakage).
- Integrasi Rantai Pasok Pangan: Terdapat peluang besar untuk memasok kebutuhan bahan pangan segar (seperti tomat, sayuran, dan padi gogo endemik Lamboya) ke hotel-hotel mewah di pesisir selatan.
- Hilirisasi Produk Kreatif: Kain tenun dan pangan lokal (seperti ubi Lamboya) dapat dikemas secara sistematis oleh BUMDes atau kelompok sadar wisata (Pokdarwis) menjadi suvenir otentik khas desa wisata.
- Pengembangan Homestay: Terdapat peluang investasi untuk membangun eco-lodge atau homestay yang dikelola oleh warga desa, di mana warga juga mendapat pelatihan tata graha (hospitality) dasar.
Tantangan Infrastruktur dan Tata Kelola
Meskipun memiliki atraksi (daya tarik) yang sangat kuat, kawasan Lamboya masih menghadapi tantangan pada komponen aksesibilitas dan amenitas.
- Infrastruktur Dasar: Ketersediaan air bersih di beberapa Unit Permukiman Transmigrasi (UPT) sangat terbatas, seringkali hanya bergantung pada satu sumur bor bertenaga surya yang macet saat cuaca mendung.
- Kelistrikan dan Jalan: Jaringan listrik dari PLN belum masuk ke sebagian besar kawasan transmigrasi, dan kondisi jalan akses pertanian maupun pariwisata rusak parah saat musim hujan.
- Kapasitas Kelembagaan: BUMDes dan kelompok koperasi di tingkat desa masih membutuhkan pendampingan manajemen agar mampu menyerap potensi wisata dan mengubahnya menjadi sirkulasi ekonomi yang sehat bagi warga transmigran dan masyarakat adat.
Mengubah wajah Lamboya menjadi destinasi wisata unggulan membutuhkan intervensi yang holistik. Dengan memperbaiki infrastruktur dasar dan memperkuat kelembagaan ekonomi rakyat, pariwisata Sumba Barat dapat berkembang menjadi mesin penggerak kesejahteraan yang adil tanpa mengorbankan kelestarian ekologi dan kearifan budaya lokal.