Program transmigrasi sering kali diasosiasikan dengan perpindahan penduduk konvensional tanpa arah pengembangan wilayah yang matang. Namun, sudut pandang berbeda ditunjukkan melalui praktik baik (best practice) di kawasan transmigrasi Lamboya, Kabupaten Sumba Barat, Nusa Tenggara Timur (NTT).
Melalui riset dokumenter yang dilakukan oleh Tim Ekspedisi Patriot dari Universitas Gadjah Mada (UGM) bekerja sama dengan Kementerian Transmigrasi Republik Indonesia, terungkap bagaimana kawasan transmigrasi lokal mampu bertransformasi menjadi pilar pertumbuhan ekonomi baru yang inklusif dan berkelanjutan.
Potensi dan Karakteristik Kawasan Transmigrasi Lamboya
Kawasan transmigrasi Lamboya mencakup tiga Unit Permukiman Transmigrasi (UPT), yaitu UPT Weringi dan UPT Elopare di Kecamatan Lamboya Barat, serta UPT Hobajangi di Kecamatan Wanokaka.
Wilayah ini memiliki potensi kekayaan alam dan budaya yang luar biasa besar untuk mendukung perekonomian daerah, sekaligus membantu upaya percepatan penuntasan kemiskinan ekstrem.
Beberapa potensi unggulan yang dipetakan oleh tim riset meliputi:
- Sektor Pertanian: Keberadaan komoditas lokal seperti beras Padi Gogo yang harum dan khas serta hanya dapat tumbuh optimal di wilayah tersebut, ditambah dengan potensi perkebunan seperti cokelat.
- Sektor Perikanan: Hasil laut yang melimpah seperti komoditas cumi-cumi dari wilayah pesisir selatan.
- Pariwisata dan Budaya: Lanskap alam yang menawan—mulai dari bentang pantai berair jernih hingga air terjun—serta kekayaan desa adat seperti Kampung Adat Bodomaroto yang sarat nilai tradisi.
Transmigrasi Damai dan Integrasi Tata Ruang Tradisional
Salah satu temuan paling menonjol dari ekspedisi ini adalah bagaimana program transmigrasi di Lamboya berjalan secara damai dan adil tanpa meminggirkan masyarakat adat setempat.
Pemerintah daerah bersama para perencana berhasil mengintegrasikan tata ruang tradisional masyarakat Sumba ke dalam desain pembangunan wilayah.
Pendekatan ini memastikan tidak ada kelompok masyarakat yang teralienasi. Pembangunan dilakukan secara kolektif demi kesejahteraan bersama, memutus jurang pemisah yang sering kali terjadi antara pendatang dan penduduk asli.
Penguatan Ekonomi Melalui Pariwisata Berbasis Masyarakat (Community-Based Tourism)
Selama ini, sektor pariwisata di Sumba kerap bergantung pada investor dari luar, di mana sebagian besar pasokan komoditas untuk resor-resor mewah justru didatangkan dari luar wilayah NTT.
Tim riset mendorong agar kawasan transmigrasi dikembangkan sebagai pusat ekonomi baru melalui konsep pariwisata berbasis masyarakat (community-based tourism).
Dengan konsep ini, masyarakat lokal dan para transmigran ditempatkan sebagai pemilik utama dari seluruh atraksi wisata, termasuk desa-desa adat dan produk kerajinan tangan seperti kain tenun tradisional.
Kerajinan tenun Sumba sendiri memiliki nilai estetika tinggi dengan proses pembuatan yang rumit serta pemanfaatan pewarna alami dari kulit kayu lokal, yang memiliki potensi besar untuk dikembangkan secara berkelanjutan.
Kolaborasi Akademisi dan Pemerintah Daerah
Kehadiran mahasiswa dan tim peneliti UGM melalui program pengabdian memberikan dampak nyata bagi masyarakat di tingkat tapak. Adaptasi mahasiswa yang cepat dengan kehidupan lokal—mulai dari menyesuaikan diri dengan pola hidup berdampingan dengan alam hingga mendampingi warga—mendapatkan apresiasi mendalam dari pemerintah daerah dan masyarakat Sumba Barat.
Kolaborasi strategis antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan institusi perguruan tinggi ini diharapkan terus berlanjut. Penguatan layanan dasar, peningkatan kualitas sumber daya manusia, serta penjagaan ekosistem lingkungan menjadi kunci utama agar pembangunan di kawasan transmigrasi Lamboya benar-benar menjadi wadah untuk “menenun asa” menuju kesejahteraan yang merata di bumi Sumba.
Tonton video selengkapnya di Menenun Asa di Lamboya: Melihat Program Transmigrasi Lokal Di Sumba Barat, Nusa Tenggara Timur.